Tag

,


Puisi Jendela karya Sulaiman Djaya

Banten Raya, 22 Juni 2013

Apa yang membedakan Rilke dan Celan bagi saya seperti perbedaan antara nyanyian burung-burung di senja hari dan di pagi hari. Saya akan mengandaikan diri sebagai seorang lelaki yang termenung bersandar di keteduhan pohon di pagi hari dan sore hari. Di pagi hari saya membayangkan diri sebagai Rilke yang tengah sibuk dengan angan-angan dan fantasi-fantasi cinta erotisnya bersama Lou Andreas-Salome atau bersama Marie Von Thurn, dan sebaliknya, saya bayangkan diri saya di senja hari sebagai Celan yang tengah meratapi nasibnya, yang tengah menenangkan amarah dan dendamnya dalam melankolia dan fantasi-fantasi waktu, sejarah, dan penyesalan. Lalu di malam hari-nya saya yang Rilke dan saya yang Celan akan sama-sama mendendangkan lagu di tempat dan suasana yang berbeda.

Meski keduanya sama-sama sebagai para penyair yang berpindah-pindah tempat, Rilke lebih merupakan seorang tamu dan pengunjung, bukan sebagai seseorang yang terusir dan melakukan pelarian tanpa henti sebagaimana Celan. Bila Rilke menulis tentang angan-angan cinta dan percumbuan sebagaimana layaknya Don Juan: “Aku hendak bernyanyi untuk seseorang, ingin bersama dengannya. Aku ingin menimangmu dan bersenandung, dan menemanimu dalam buaian tidur”, Celan lain lagi, Celan lebih merupakan seorang penyair yang sedang menceritakan kepedihan seorang kekasih, seorang lelaki: “Tak lagi kita tidur, sebab terbaring di detik Kemurungan, dan kita rentang jarum jam seolah ranting, dan ia melenting kembali mencambuk sang waktu hingga berdarah, dan kau omongkan kegelapan yang makin gulita, dan dua belas kali kusebut kau pada malam kata-katamu, dan malam pun terkuak dan terdedah selamanya”. Imaji puitis Celan tersebut lebih terasa mencekam dan menyergap saya ketika membacanya dibandingkan seduksi liris-nya Rilke.

Bahasa di tangan Rilke memanglah layaknya lirik-lirik lagu yang bersenandung merdu, sementara itu ratapan kepedihan-nya Celan memanglah lantunan-lantunannya mazmur dari Selatan, petikan-petikan Harpa-nya Dawud. Bahasa Rilke membuat saya terlena dan ingin mendengarkan, tetapi lantunan-lantunannya Celan membuat saya ingin mencari, menjelajahi, menyelami, dan mengembara bersama alunan-alunan biola adagio-nya Albinoni, menusuk hati saya sendiri ketika menyimaknya dengan kesungguhan sepi dan hening. Rilke bernyanyi, tetapi Celan bersenandung.

Di sekali waktu saya akan membayangkan diri sebagai Rilke yang bernyanyi: “Kurasakan benar apa artinya perpisahan. Masih segar di ingatanku: gelap, kebal dan kejam, yang sekali lagi perlihatkan dan tawarkan keindahan, dan setelah itu mengoyaknya. Dengan pandangan pasrah kutatap orang yang ditinggalkan, yang toh membiarkan aku pergi, sembari memanggilku, seakan penjelmaan semua perempuan”. Dan di waktu yang lain saya membayangkan diri sebagai Celan yang berdiri di pintu, memandang dingin kegelapan sembari melantunkan ratapan mazmur-nya: “Keji bagai tutur kencana, malam ini bermula. Kami lahap apel-apel kaum bisu. Kami perbuat yang gemar orang biarkan dikerjakan bintangnya; kami berada di tengah musim gugur pohon linde kami sebagai merah bendera penuh rencana, sebagai tetamu menyala dari selatan // Kami berikrar, demi Kristus Sang Baru, untuk menikahkan debu dengan debu, burung-burung dengan sepatu yang berkelana”.

Membaca sajak-sajak Rilke, saya tak ubahnya mendengarkan waltz-waltz-nya Johann Strauss, tetapi menyimak petikan-petikan lantunan mazmur-nya Celan, saya terasa tengah mendengarkan alunan-alunan biola-nya Paganini dan Albinoni sembari bersandar di malam yang sepi dan dingin.

Daya-rajuk dan kesenyapan musikalitas imaji puitisnya Celan menjadikan sonnet dan stanza menemukan aspek terdalam dari yang sublim, dari rahim eksistensi Sang Ada yang terhening, bila saya meminjam istilahnya Nietzsche dan Heidegger, membuat saya seolah-olah tengah berada di ambang senja dan malam yang begitu dingin dan tak berdaya. Biarlah untuk ini saya akan mencontohkannya dengan salah satu sajaknya yang lain, yang kental dan pekat, yang ragu dan melawan dalam pasrah ini: “Kucari matamu kala kau buka dan tak ada yang memandangmu, kupintal benang kediam-diaman itu, padanya embun yang kau reka menetes ke kendi, yang dikawal pepatah yang tak pernah tiba ke kalbu siapa-siapa. Dan di sana kau sempurna masuk ke nama yang jadi namamu, menuju ke diri dengan langkah yang pasti, dan di sana genta-genta berayun bebas di ruang lonceng kebisuanmu, sang tersimak padamu tiba, sang mati merengkuhmu juga, dan bertiga kalian lintasi malam”.

Terasa sekali dalam sajak di atas, Celan menciptakan figur-figur fantasi dan imajis-nya sendiri untuk menggambarkan kepedihan dan kenangan yang tak terlupakan dalam media ruang-ruang, benda-benda, gerak-gerak yang senyap, suasana kebisuan dan keheningan yang di sana sang maut, sang takdir, dan hidup manusia sedang diperbincangkan, dipertukarkan dan senantiasa berada dalam ketakmengertian. Kekejaman dan Sejarah yang tak teramalkan sebelumnya, tak sempat diantisipasi. “Di sana genta-genta berayun bebas di ruang lonceng kebisuanmu”. Di sanalah moralitas, agama, dan janji pencerahan Eropa modern, bila meminjam bahasanya Adorno, telah mendapatkan bukti-bukti tidak bermoralnya, hingga kejahatan seringkali diideologisasi oleh ideologi sekuler atau pun agamis, oleh cita-cita kebangsaan atau pun hasrat untuk menemukan kemurnian.

Lain lagi dengan Rilke ketika menulis juga tentang penderitaan, kemalangan, dan orang-orang yang tak berdaya, yang bagi saya tidak terlampau berhasrat untuk melakukan ikhtiar pengalihan dan pemanipulasian realitas menjadi sebuah dunia imaji dan fantasi seperti halnya Celan, seperti sajaknya yang berjudul Herbsttag itu: “Tuhan, saatnya tiba sudah. Sungguh indah musim panas yang berlalu. Gelarkan bayangmu di atas jam mentari, kirimkan angin bertiup di segala ladang. // Mereka yang berumah tak akan membangun lagi. Mereka yang sendiri, akan lama menyendiri, akan jaga, membaca, menulis surat panjang, dan akan melangkah hilir mudik di jalanan, gelisah, bila dedaunan beterbangan”.

Membaca sajak Rilke di atas secara pribadi saya tak mendapatkan efek magis dan daya rajuk musikal yang begitu menyekap saya untuk memasukinya lebih dalam seperti ketika saya membaca sajak-sajaknya Celan. Sajak Rilke tersebut memanglah masih seperti sajak-sajaknya para penyair romantik pada umumnya. Tetapi Celan mampu belajar dari mereka sembari sanggup menemukan kekhasan dan keunikan ungkapannya sendiri dengan kematangannya menggunakan figur-figur imajis dan fantasi, simbolisme yang dipadukan dengan upaya transendensi. Berbeda dengan Rilke, fantasi dan imaji musikal sajak-sajaknya Celan yang bila saya meminjam istilahnya Michel de Certeau, mengalun dari tempat yang tidak diketahui, mendendangkan irama eksistensi Sang Ada yang baru, seolah-olah kita pun tetap merasa gembira meski dalam penderitaan dan dingin kegelapan yang menawan kita, justru di saat kita pasrah dan tak berdaya di hadapan segugus kenangan yang memabukkan.

Bila saya membayangkan diri sebagai Rilke, maka saya akan berandai-andai sebagai seorang lelaki yang duduk di meja belajar dan meja kerja saya, memungut kertas dan pena, dan memulai menyiagakan konsentrasi pikiran dan hati saya untuk menulis sebuah sajak selepas saya bertemu atau pun bercengkerama dengan seorang perempuan yang saya gandrungi dan saya akrabi di waktu-waktu keseharian dan senggang saya. Beberapa menit atau jam kemudian, telah tertulis di sebuah kertas atau pun buku catatan harian saya yang Rilke itu sebuah stanza cinta: “Suatu waktu bila aku kehilanganmu, akan sanggupkah engkau tidur, tanpa bisikanku yang membuaimu bagaikan pucuk pohon tilia? Dengan tiada aku yang berjaga di sisimu dan menyenandungkan kata, lembut bak kelopak mata, pada dadamu, pada tubuhmu, pada bibirmu”.

Tetapi bila saya yang Celan, saya akan mengandaikan diri sebagai seseorang yang memang selalu merasa jauh, terasing, terusir dari masa lampau yang sekaligus selalu saja ingin mengunjunginya, di kala saya tak ubahnya sebagai seorang lelaki yang tercenung dan merabun: “Kembali rambutmu menggelombang, bila aku menangis. Dengan biru matamu kau tata meja cinta kita: ranjang antara musim panas dan musim gugur. Kita reguk yang disuling seseorang yang bukan aku, bukan kau, bukan dia: kita sesap sebuah kosong dan sebuah akhir. Di cermin lautdalam kita amati diri dan bersicepat ulurkan hidangan: malam adalah malam, ia bermula dengan pagi, disandingkannya aku padamu.”

Sulaiman Djaya

Iklan